Niat Berangkat untuk Kuliah, Pria Surabaya Jadi Tentara AS karena Tergiur Gaji Fantastis

Jakarta – Adalah Jovan Zachary Winarno, pria berusia 20 tahun asal Surabaya yang berhasil menjadi tentara Angkatan Laut Amerika Serikat (AS), Bunda. Awalnya, Jovan mengaku bahwa dirinya tak mampu menggunakan Bahasa Inggris dengan lancar, lho.
“Enggak bisa berbicara (bahasa) Inggris,” akunya, dikutip dari VOA Indonesia pada Jumat (6/8/2021).

Jovan sendiri memang lahir di AS dan memiliki kewarganegaraan negara tersebut, Bunda. Namun saat dirinya berusia sekitar 6 bulan, ia bersama keluarganya kembali ke Indonesia dan tinggal di Surabaya.

Sebetulnya, Jovan memiliki ambisi untuk melanjutkan pendidikan di AS. Oleh karena itulah dirinya memberanikan diri untuk terbang sendirian ke Los Angeles, California.

Saat menginjakkan kaki kembali di AS pada tahun 2018, Jovan mengaku bahwa saat itu ia masih belum bisa Bahasa Inggris sama sekali. Di sana lah ia baru mulai belajar secara perlahan.

“Dibilang lancar, juga enggak. Ya, lumayan lah,” ujarnya dengan logat Jawa yang kental.

Saat-saat belajar berbahasa sebelum kuliah ini, Jovan mengaku bahwa ia ingin merasakan bekerja terlebih dahulu. Ia pun kemudian dibantu oleh teman ayahnya dan pindah ke Texas untuk bekerja sebagai pelayan restoran selama enam bulan.

Hingga pada suatu saat, Jovan mendapat informasi mengenai tentara di AS dari anak teman ayahnya. Informasi tersebut mengatakan bahwa ada banyak keuntungan yang diperoleh jika mau bergabung di dalamnya. Hal tersebut lah yang menjadi awal mula berubahnya jalan hidup Jovan.

“Awalnya enggak ada niatan sama sekali (masuk tentara). Setelah itu ada anaknya teman papa saya, dia tawarkan saya, kalau mau masuk tentara. Akhirnya saya masuk, setelah tahu ada banyak benefit-nya.””

“Akhirnya saya masuk (tentara) setelah tahu banyak benefitnya. Tunjangan buat sekolah, terus kesehatan, asuransi, dan lainnya” sambungnya.

Jovan Zachary Winarno juga menceritakan bagaimana respons keluarga saat tahu dirinya akan bergabung menjadi tentara Amerika Serikat melalui telefon. Jovan mengatakan bahwa keluarga kala itu terkejut dengan keputusannya itu.

“Awalnya (keluarga) kayak, ‘Ngapain gitu masuk tentara?'” ungkap Jovan.

Ayahnya sendiri, Susanto Budi Winarno, mengaku bahwa keputusan Jovan tersebut amat berat untuk ia terima, Bunda. Katanya, itu terlalu berisiko, sehingga ia merasa khawatir.

Walau begitu, Susanto akui bahwa ia tak dapat melarang atau mengatur hidup Jovan. Ia ingin mendukung apa yang jadi keputusan putranya tersebut.

“Menurut saya itu terlalu berisiko. Tapi saya juga tidak bisa membatasi ya antara ruang gerak saya dan dia,” ujar Susanto.

Berbekal dukungan orang tua, Jovan lantas mendaftarkan diri. Setelah itu, ia pun mengikuti pelatihan yang amat ketat selama kurang lebih 2 bulan.

Bersama 20 orang peserta lainnya, ia naik bus ke tempat pelatihan. Sesampai tujuan, ia dan yang lain diteriaki untuk segera turun dari bus oleh para pelatih, yakni tentara senior.

“Awalnya kaya santai gitu pas di bus, terus pas turun, ada satu (orang) pangkatnya Chief kalau enggak salah. (Dia) langsung teriak-teriak, ‘Ayo turun! Ayo turun!’. Langsung kayak ngomong kotor gitu.”

“Kayak dimarah-marahi,” tambahnya.

Sebelum memulai pelatihan, seluruh peserta yang akan dilatih masing-masingnya mendapat waktu selama 1 menit. Ini harus mereka manfaatkan untuk menghubungi dan memberikan ‘kata-kata terakhir’ karena akan ‘hilang’ selama dua bulan mengikuti pelatihan.

Selama pelatihan berjalan, Jovan menceritakan bahwa dirinya harus bangun sekitar jam 4 pagi dan tidur pukul 10 malam. Ia pun kerap diberi tugas untuk jaga malam sekitar 2-4 jam.

Dalam kesempatan yang sama, Jovan mengaku bahwa pada awalnya ia merasa takut dan ragu atas pilihannya menjadi tentara. di benaknya, jika bergabung di dalamnya, maka ia akan turut andil dalam peperangan.

“Kalau sudah ke tentara, kan pasti, ‘Oh perang ini.’ Cuma kalau sudah ke sini, kalau sudah masuk ke tentara, sudah biasa gitu,” ungkapnya.

HILANG KONTAK BERHARI-HARI

Hingga usai pelatihan, Jovan pun mengikuti tes untuk menentukan bidang pekerjaannya sebagai tentara. Lalu ia memilih jabatan sebagai teknisi kapal (tentara angkatan laut atau AL) yang melakukan pengecekan pada mesin kapal angkatan laut saat tengah bersandar.
“Kami kayak maintenance (pemeliharaan) mesin, kadang yang basic kaya CO2, terus fire station (pos pemadam kebakarannya).”

“Mengecek kalau semua oke,” tuturnya.

Selama menjadi tentara AL, Jovan bertugas sebanyak tiga kali seminggu. Ia bekerja mulai pukul 7.00 hingga 16.00. Menurutnya, pekerjaan sebagai teknisi kapal tidak sulit, karena ia tinggal mengikuti buku panduan.

“Kerjanya gampang saja. Terus Sabtu, Minggu juga libur,” ujarnya.

Terkait bahasa, pria dengan hobi main game online juga mengaku masih mengalami keterbatasan dan menjadi kendala. Bahkan, saat baru mulai bertugas, ia memilih untuk tak banyak berbicara karena merasa takut.

“Saya biasanya (menerjemahkan) dahulu kalau misalnya enggak tahu apa yang saya mau omongin. Habis itu saya baru ngomong,” katanya.

Soal risiko pekerjaan, tentunya ia juga mengalaminya, Bunda. Salah satu yang ia bagikan yakni pernah hilang kontak hingga beberapa waktu.

Hal tersebut bisa terjadi saat dirinya mendapat tugas untuk berlayar hingga beberapa bulan. Pernah pada suatu ketika, ia hilang kontak dengan keluarganya hingga dua minggu, karena tidak ada sinyal untuk menelepon di tengah laut.

Hal tersebut tentu membuat keluarganya panik. Ayah Jovan pun merasa was-was, hingga pada akhirnya Jovan sendiri yang langsung menghubungi keluarga saat mendapat sinyal.

“Mereka kayak panik gitu. Ini orang ke mana? Kok enggak hubungi?” kata Jovan.

“Ya, sangat khawatir sekali. Galau ya, toh? Apalagi ini memakan waktu yang cukup lama. Biasanya dia intens bel saya atau saya bel dia,” ujar Susanto.

“Saya tunggu sampai berhari-hari, waktu demi waktu. Ya, pikiran ini macam-macam dan arahnya lain-lain juga. Tapi syukurlah pada saat yang tepat dia juga hubungi saya, bahwa dia baik-baik saja ndak kurang suatu apa pun,” tambah Susanto.

BERLAYAR KE BERBAGAI NEGARA

Sejak resmi menjadi tentara Angkatan Laut AS dua tahun lalu, Jovan kini sudah berpangkat E4 (tamtama) dan pernah berlayar ke berbagai negara, Bunda.
Terkadang ia juga harus berlayar hingga berbulan-bulan dan kembali alami kesulitan dalam berkomunikasi. “Pas lagi berlayar tahun lalu. Empat bulan kalau enggak salah. Jadi kami bisa kontak keluarga itu paling sehari sekali, sejam doang. Itu aja sih,” ceritanya.

Saat kapal bersandar di dermaga negara tujuan, Jovan bersama tentara lain biasanya diberi waktu untuk jalan-jalan di negara tersebut. akan tetapi, selama pandemi COVID-19 ini hal tersebut tak dapat mereka lakukan lagi.

“Jadi kami pas bersandar cuman di pinggirannya saja. Enggak bisa ngapa-ngapain juga. Jadi kayak, boring gitu. Bosan,” kata Jovan.

Walau kini sudah bekerja, Jovan nyatanya tetap gigih mengejar cita-cita menuntut ilmu dengan kuliah di AS. Sesuai dengan tujuan awal dan janji pada orang tua, Jovan mengambil jurusan yang berhubungan dengan mesin, sesuai dengan profesinya.

“Dia (Jovan) berjanji sama saya, dia harus lulus S1. Itu prinsipnya dia,” kata Susanto.

Susanto berharap, Jovan bisa menggapai cita-citanya dan lulus sebagai seorang insinyur di AS. Tak ketinggalan, Susanto berpesan kepada anaknya agar tidak menjadi orang yang sombong.

“Jangan sombong, tetap membantu orang yang memerlukan bantuan,” ujarnya.

sumber : https://www.haibunda.com