Penghasilan “Seadanya”, Dahulukan Nafkahi Ibu atau Nafkahi Istri?

256 views

Suatu hal – hal yang bisa jadi amat kerap dan juga banyak terjalin. bila seseorang suami ataupun pria yang sudah menikah, tetapi mempunyai pemasukan yang pas – pasan. sebaliknya dan juga bapaknya – ayah dan juga bundanya’ juga tidak hidup dalam kecukupan. terlebih orang yang jadi tanggunganya ialah anak-anak dan juga istrinya. Dilansir dari maarifnucilacap. or. id, suatu cerita nyata yang bisa jadi mampu jadi pedoman untuk kita semua.

Dari wulan : assalamualaikum, ustadz, aku mau tanya menimpa kewajiban nafkah suami, apakah dia wajib mendahulukan istrinya ataupun ibunya kala berikan nafkah. permasalahannya, aku menikah bbrp bulan, dan juga suami tidak sempat membagikan nafkah berbentuk duit kepada aku.

Pemasukan suami benar amat cocok, karna benar sebagian dipakai utk membayar hutang. tetapi suami aku masih membayar kontrak rumah dari gajinya. sebaliknya buat makan, acapkali masih dari honor aku. begitu pula dengan baju.

perkaranya, sepanjang ini (semenjak saat sebelum menikah) , suami teratur membagikan duit kepada ibunya (aku sdh menyetujuinya saat sebelum menikah). tetapi keadaan dikala ini kami ketiadaan, dan juga ia masih berikan kepada ibunya dan juga tidak kepada aku.

gimana hukumnya? aku tidak mau jadi istri dan juga menantu yg durhaka, karna itu aku mau meluruskan kasus ini kepada ustadz.
terima kasih,

jawaban: dijawab oleh: ust. ibrahim bafadhol, meter. pd. i
Bismillah. alhamdulillah washsholatu wassalamu ‘ala rosulillah wa’ala ali wasobbihi wamanitabbahuda amaba’d.

manakah yang wajib didahulukan oleh seseorang anak pria, membagikan nafkah kepada ibunya ataupun istrinya, bila sang anak pria ini tidak sanggup menafkahi keduanya?

butuh dikenal, kalau para ulama telah bersepakat bundar ataupun ber – ijma sebagaimana telah dinukil oleh ibnul munzir, kalau nafkah buat kedua orang tua yang miskin dan juga tidak sanggup memadai kebutuhan pokok keduanya, hingga nafkah kedua orang tua ini jadi kewajiban anak – anaknya. baik anak pria ataupun wanita.

setelah itu bila anak pria ini telah menikah dan juga telah mempunyai anak, hingga ia memiliki 2 kewajiban: kewajiban menafkahi orang tuanya yang miskin yang tidak sanggup memadai kebutuhan pokoknya dan juga menafkahi istri dan juga anak – anaknya seorang diri.

bila seseorang anak pria sanggup melaksanakan 2 kewajiban ini, hingga inilah yang harus atas pribadinya. tetapi bila ia tidak sanggup memadukan 2 kewajiban tersebut, karna penghasilannya yang pas – pasan semisal, hingga yang wajib didahulukan merupakan menafkahi istri dan juga anak – anaknya.

para pakar fiqih telah menegaskan perihal ini, sebagaimana diutarakan oleh penyusun kitab kasyful kina’, ia mengatakan, seorang yang tidak memiliki kelebihan dari nafkah buat memadai seluruh yang harus ditanggung oleh pribadinya, hingga yang kesatu ia mulai merupakan menafkahi pribadinya seorang diri.

bila sehabis itu terdapat kelebihan buat teman , hingga ia dahulukan istrinya. karna nafkah buat istri merupakan kewajiban bersumber pada silih timbal balik ataupun al – mu’awadoh, ialah istri membagikan pelayanan kepada suaminya, oleh karna itu pelayanan dari istri ini harus diimbali dengan nafkah. dan juga nafkah yang harus karna al – mu’awadoh lebih didahulukan dari nafkah yang dikasih karna membantu ataupun al – muwasah.

setelah itu mereka berdalil dengan suatu hadits yang diriwayatkan oleh teman jabir rodhiallohu’anhu dan juga hadits ini dikeluarkan oleh imam muslim dalam shohihnya, rosululloh shalallohu ‘alaihi wasalam bersabda:

“jika allah ta’ala membagikan kepada salah seseorang di antara kamu kebaikan – nikmat ataupun rezeki, hingga sebaiknya ia mengawali dengan pribadinya dulu dan juga keluarganya” (hr. muslim)

“nafkah yang amat besar pahalanya merupakan nafkah yang dikeluarkan oleh seorang kepada keluarganya” (hr. muslim)

jadi serupa inilah syariat mendudukan perkaranya. kalau orang tua ataupun bunda yang miskin, tidak mempunyai pemasukan sampai – sampai tidak dapat memadai santapan pokoknya tiap hari, tidak bisa jadi ditelantarkan.

nafkah ataupun santapan pokok orang tua merupakan tanggungan dari anak – anaknya. sehabis si anak pria memadai kewajiban terhadap istri dan juga anak – anaknya seorang diri.

namun bila si orang tua tidak miskin, buat santapan pokoknya sudah cukup, semisal orang tuanya mempunyai pemasukan berbentuk duit pensiun, hingga nafkahnya tidak harus untuk anak laki – lakinya.

tetapi bila anak laki – lakinya bakal membagikan sebagian uangnya kepada ibunya, hingga sebaiknya si istri tidak mencegahnya. karna perihal tersebut menggambarkan wujud birur walidayn ataupun berbakti kepada orang tuanya. dengan catatan, sehabis anak pria ini memadai nafkah buat keluarganya.
wallohu a’lam

sumber: d-viralz.com