Siapa yang Bangun Piramida Mesir Terungkap, Bukan Alien!

312 views

Piramida di Mesir adalah keajaiban arkeologi. Bangunan ini menjulang tinggi di atas gurun pasir dan dapat terlihat dari jarak berkilo-kilometer jauhnya. Membangun piramida tak diragukan lagi merupakan tugas yang sangat berat. Jadi siapa yang berhasil melakukannya?

Ada banyak teori tentang siapa yang membangun piramida Mesir, mulai dari sekelompok besar budak Yahudi, penduduk Atlantis yang hilang, bahkan lebih liar lagi, alien. Namun, tak satu pun dari teori ini, dengan berbagai cara, memiliki bukti untuk mendukungnya.

Yang pertama, seperti dikutip dari Live Science, Sabtu (22/5/2021) piramida tidak mungkin dibangun oleh budak Yahudi. Teori ini dengan mudah terbantahkan karena tidak ada sisa-sisa arkeologi yang dapat dikaitkan langsung dengan orang-orang Yahudi ditemukan di Mesir yang berasal dari 4.500 tahun yang lalu ketika piramida Giza dibangun.

Selain itu, cerita yang diceritakan dalam kitab Ibrani tentang orang Yahudi yang menjadi budak di Mesir mengacu pada sebuah kota bernama Ramses. Sebuah kota bernama pi-Ramesses didirikan selama dinasti ke-19 (sekitar 1295-1186 SM), mengambil nama dari Ramses II yang memerintah 1279-1213 SM. Kota ini dibangun setelah era pembangunan piramida berakhir di Mesir.

Kami tidak memiliki petunjuk, bahkan satu kata pun, tentang nenek moyang Israel awal di Mesir, baik dalam prasasti monumental di dinding kuil, maupun dalam prasasti makam, atau dalam papirus,” tulis arkeolog Israel Finkelstein dan Neil Asher Silberman dalam buku mereka “The Bible Unearthed: Archaeology’s New Vision of Ancient Israel and the Origin of its Sacred Texts ” (The Free Press, 2001).

Selanjutnya, tidak ada bukti arkeologis yang pernah ditemukan terkait Atlantis yang hilang dalam periode waktu mana pun. Banyak ahli percaya bahwa cerita tersebut adalah fiksi. Adapun teori yang menyebutkan alien membangun piramida, ide itu pun tercetus tanpa bukti apapun.

Faktanya, semua bukti menunjukkan bahwa orang Mesir kuno sendirilah yang membangun piramida, berdasarkan pendapat beberapa ahli dan peneliti Mesir Kuno. Namun terkait bagaimana kehidupan para pembangun piramida, bagaimana mereka dibayar, dan bagaimana mereka diperlakukan, adalah misteri yang masih diselidiki para peneliti.

Piramida dan para pembangunnya

Mesir memiliki lebih dari 100 piramida kuno, tetapi yang paling terkenal termasuk piramida pertama, dibangun pada masa pemerintahan firaun Djoser (sekitar 2630-2611 SM), dan piramida sejati pertama dibangun di bawah kekuasaan tentang firaun Snefru (sekitar 2575-2551 SM).

Piramida Besar dibangun di Giza pada masa pemerintahan firaun Khufu (sekitar 2551-2528 SM) dan dua penerusnya, Khafre (sekitar 2520-2494 SM) dan Menkaure (sekitar 2490-2472 SM), juga memiliki piramida yang dibangun pada Giza.

Para firaun secara bertahap berhenti membangun piramida selama Kerajaan Baru (1550-1070 SM). Para raja ini memilih untuk dimakamkan di Lembah Para Raja (Valley of the Kings) yang terletak sekitar 483 km di selatan Giza. Selama beberapa dekade terakhir, para arkeolog telah menemukan bukti baru yang memberikan petunjuk tentang siapa pembangun piramida itu dan bagaimana mereka hidup.

Berdasarkan catatan tertulis yang masih ada, termasuk papirus yang ditemukan pada 2013 di Wadi al-Jarf di pantai Laut Merah Mesir, terungkap informasi bahwa sekelompok besar pekerja membantu membawa materi bangunan ke Giza.

Informasi dari papirus

Papirus yang ditemukan di Wadi al-Jarf menceritakan keberadaan sekelompok tim terdiri dari 200 orang yang dipimpin oleh inspektur bernama Merer. Para pekerja itu mengangkut batu kapur dengan perahu menyusuri Sungai Nil yang berjarak sekitar 18 kilometer dari Tura ke Piramida Agung, tempat batu itu digunakan untuk membangun selubung luar monumen.

Di masa lalu, ahli Mesir Kuno berteori bahwa para pembuat piramida sebagian besar terdiri dari pekerja pertanian musiman yang sedang kehabisan pekerjaan. Namun, informasi ini masih diragukan kebenarannya.

Adapun papirus yang merinci sejarah piramida saat ini masih dalam proses diuraikan dan dianalisis, tetapi hasilnya menunjukkan bahwa kelompok pekerja yang dipimpin oleh Merer melakukan lebih dari sekadar membantu pembangunan piramida.

Para pekerja ini tampaknya telah melakukan perjalanan di sebagian besar wilayah Mesir, mungkin hingga Gurun Sinai. Mereka mengerjakan berbagai proyek konstruksi dan tugas. Ini menimbulkan pertanyaan apakah mereka adalah bagian dari tenaga profesional yang bersifat permanen atau mereka sekadar sekelompok pekerja pertanian musiman yang akan kembali ke ladang mereka.

Menurut papirus tersebut, para pekerja diberi makanan yang mencakup kurma, sayuran, unggas, dan daging. Selain tentang diet sehat, papirus itu menjelaskan anggota tim kerja secara teratur mendapatkan tekstil yang mungkin dianggap sebagai uang pada waktu itu,” kata Pierre Tallet, seorang profesor Egyptology di Paris-Sorbonne University yang bekerja menerjemahkan papirus.

Selain itu, menurut Director of Ancient Egypt Research Associates (AERA) Mark Lehner, para pejabat di posisi tinggi yang terlibat dalam pembangunan piramida mungkin telah menerima hibah tanah.

“Catatan sejarah menunjukkan bahwa dalam sejarah Mesir, hibah tanah diberikan kepada para pejabat. Namun, tidak diketahui apakah hibah tanah juga diberikan kepada pejabat yang terlibat dalam pembangunan piramida,” ujarnya.

Bukti ribuan hewan yang disembelih

Tim Lehner telah menggali sebuah kota di Giza yang pernah dihuni dan sering dikunjungi oleh beberapa pekerja yang membangun piramida Menkaure. Sejauh ini, para arkeolog telah menemukan bukti bahwa penduduk kuno kota ini terbiasa memanggang roti dalam jumlah besar, menyembelih ribuan hewan, dan menyeduh bir dalam jumlah banyak.

Berdasarkan tulang hewan yang ditemukan di situs tersebut, dan dengan mempertimbangkan kebutuhan nutrisi para pekerja, para arkeolog memperkirakan ada sekitar 1.800 kilogram hewan, termasuk sapi, domba, dan kambing rata-rata disembelih setiap hari untuk memberi makan para pekerja.

Sisa-sisa pekerja yang terkubur di kuburan dekat piramida menunjukkan bahwa mereka mengalami penyembuhan tulang yang terpasang dengan benar. Ini menunjukkan bahwa mereka memiliki akses ke perawatan medis yang tersedia pada saat itu.

Pola makan yang kaya dari para pembangun piramida, dikombinasikan dengan bukti perawatan medis dan menerima tekstil sebagai bentuk pembayaran, telah membuat ahli Mesir Kuno secara umum setuju bahwa para pekerja ini bukanlah orang-orang yang diperbudak.

Tetapi ini tidak berarti semua pekerja mendapat akomodasi yang sama. Penggalian AERA menunjukkan bahwa beberapa pejabat tinggi tinggal di rumah-rumah besar dan memiliki potongan daging terpilih.

Sebaliknya, Lehner curiga bahwa pekerja yang peringkatnya lebih rendah kemungkinan besar tidur di tempat tinggal sederhana atau di proyek piramida itu sendiri.

Sumber: detik.net