Bahagia Untukmu

98 views

Satu tahun yang lalu, kekasihku Rupol pamit untuk pergi merantau ke Kalkuta (kini Kolkata). Ia berencana mencari pekerjaan dan tempat tinggal di sana. Sebelum pergi, Rupol berjanji bahwa dalam waktu dua tahun ia akan kembali untukku.

Kami saling berkirim surat, terkadang ketika memiliki uang lebih, aku menghubunginya lewat telepon. Meski jauh, tapi cintaku padanya tidak berubah.

Suatu hari ia mendapat promosi, dalam suratnya ia berkata bahwa mungkin akan lebih sibuk. Aku bahagia untuknya, namun aku sedih karena rindu. Surat yang tadinya datang tiap minggu berubah menjadi bulan hingga perlahan hilang.

Untuk melepas rindu, jalan satu-satunya hanya lewat telepon. Meski harus berjalan dulu beberapa kilometer untuk menelponnya, aku rela.

Dua bulan yang lalu, mendadak datang sebuah surat dan paket dari Rupol. Agak aneh karena sudah lama ia tidak mengirim surat lagi. Tapi dengan riang kubuka dan kubaca surat itu.

“Vani, maafkan aku melanggar janji. Tapi aku memutuskan untuk segera menikah dengan bosku. Kuharap kamu mau memaafkanku. Di dalam kotak ada undangan dan tiket kereta. Aku tidak akan memaksa, tapi jika kamu hadir aku akan senang sekali.”

Kubaca surat itu berulang kali, masih tak percaya dengan isinya. Aku sedih dan marah, kurobek surat itu sambil menangis sejadi-jadinya.

Selama berhari-hari aku merasa seperti mayat hidup. Mengurung diri di kamar, hanya menangis meratapi nasibku.

Tiga hari yang lalu aku tiba di Kalkuta untuk menghadiri pernikahan Rupol. Ikhlas? Bukan, aku ingin mengamuk di pesta itu. Aku tidak peduli bagaimana buruknya nanti.

Aku sampai di depan rumah mempelai, kulihat semua orang tersenyum bahagia. Keluarga Rupol dan istrinya menyambut tamu dengan hangat di depan. Ibu Rupol bahkan memelukku dan berterima kasih sambil menitikkan air mata.

Kulihat di pelaminan, Rupol dan istrinya saling memandang, wajahnya sangat bahagia. Langkahku mendadak menjadi berat, nafasku menjadi sesak. Rasa marahku perlahan gugur semakin mendekati pelaminan.

Sampai tiba giliranku memberi selamat pada mempelai, kulihat mata Rupol berkaca-kaca. Entah kerasukan apa, aku malah tersenyum sambil mengucapkan, “Selamat, aku bahagia untukmu.”

Jika kejadian di atas terjadi padamu, bisakah kamu melakukan hal yang seperti wanita dalam cerita cinta sedih bikin nangis ini? Sudikah kamu mengikhlaskan kekasihmu mengejar kebahagiaan tanpa dirimu?

Cinta tertinggi adalah ketika kamu bisa mendoakan orang yang kamu sayangi bahagia, meski tanpa dirimu. Memang tidak mudah untuk ikhlas, tapi itulah jalan cinta, tidak selalu mulus seperti yang diinginkan.

Sumber: kompas.com