5 Fakta Sindrom Salju Visual, Penglihatan Berbintik mirip TV Analog

224 views

Sindrom salju visual (visual snow syndrome atau VSS) adalah gangguan penglihatan di mana seluruh bidang pandang terlihat seperti titik-titik kecil yang tak terhitung jumlahnya. Ini adalah gangguan neurologis langka yang berbeda dengan penyakit mata pada umumnya.

Menurut studi, VSS kemungkinan lebih banyak ditemukan pada kelompok laki-laki muda, sedangkan banyaknya penderita penyakit tersebut masih belum diketahui secara pasti.

Untuk mewaspadai penyakit langka ini, berikut fakta lengkap tentang sindrom salju visual yang penting untuk diketahui, mulai dari penyebab, gejala, diagnosis, dan pengobatannya.

1. Kerusakan otak diduga menjadi penyebab sindrom salju visual

Tidak diketahui pasti penyebab sindrom ini. Namun, berdasarkan beberapa gejala utama yang ditimbulkan, menunjukkan bahwa VSS disebabkan oleh kerusakan otak, yang mana otak salah memproses informasi visual yang dikirimkan oleh mata.

Kerusakan ini diperkirakan terjadi pada korteks, tepatnya pada gyrus lingual, yaitu area yang menjadi elemen kunci dari fungsi fisiologis seperti memori visual, persepsi warna, dan identifikasi ekspresi wajah.

Berdasarkan keterangan dari National Organization for Rare Disorders, studi neuroimaging dengan [18F]-FDG PET memang telah mengonfirmasi temuan ini. Namun, masih diperlukan studi lebih lanjut terhadap jumlah pasien yang lebih besar untuk menguatkan hipotesis tersebut.

2. Seseorang dengan sindrom salju visual biasanya mengembangkan gejala penglihatan yang dipenuhi titik-titik statis, mirip tampilan TV analog

Melansir, Verywell Health, dijelaskan bahwa seseorang dengan VSS dapat mengalami masalah penglihatan berupa titik-titik kecil yang terus-menerus, berkedip-kedip, “salju”, atau “statis” di seluruh bidang penglihatan (mirip seperti tampilan TV analog yang disetel dengan sinyal buruk). Titik-titik ini biasanya berwarna hitam dan putih, berwarna, atau bahkan transparan.

Tak hanya itu, orang dengan VSS juga bisa mengalami gejala visual tambahan seperti:

Palinopsia atau perpanjangan bayangan, di mana seseorang dapat melihat bayangan secara terus-menerus atau berulang, meski gambar yang sebenarnya telah dihilangkan
Fotofobia, yaitu kepekaan terhadap cahaya
Fenomena entoptik, yaitu efek visual yang berasal dari dalam mata itu sendiri
Nyctalopia, yaitu gangguan penglihatan pada malam hari
Selain gejala visual, seseorang dengan VSS juga dapat mengembangkan gejala non visual lain seperti migrain, vertigo, tinitus atau telinga berdenging, kelelahan, gemetar, gelisah, dan depresi.

3. Diagnosis

Untuk menegakkan diagnosis, dokter mungkin akan melakukan beberapa jenis pemeriksaan. Mulai dari wawancara seputar riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, pemeriksaan mata, dan pemeriksaan neurologis.

Jika seseorang secara konsisten mengalami gangguan penglihatan “salju” berupa titik-titik kecil pada seluruh bidang pandang yang berlangsung lebih dari 3 bulan dan mengalami setidaknya dua gejala visual tambahan dari empat kategori yang sudah disebutkan sebelumnya, bisa dikategorikan ia mengalami VSS.

Selain itu, orang dengan VSS biasanya juga menunjukkan hasil pemeriksaan oftalmologi yang normal serta tidak memiliki riwayat penyalahgunaan obat-obatan tertentu.

4. Beberapa gangguan yang sering kali membingungkan diagnosis sindrom salju visual

VSS sering kali dikaitkan dengan beberapa gejala seperti migrain, tinitus, dan gangguan persepsi persisten halusinogen (HPPD). Kondisi-kondisi tersebut membuat VSS sering mengalami salah atau keterlambatan diagnosis serta sulit diidentifikasi.

Tinitus adalah kondisi yang ditandai dengan adanya persepsi atau sensasi suara meski tidak ada sumber eksternal yang menyebabkan suara tersebut. Keterkaitannya dengan VSS diduga karena keduanya merupakan bentuk disfungsi yang sama dalam pemrosesan sensorik, yaitu kesalahan otak dalam mengolah informasi.

Sementara itu, migrain terkait dengan VSS karena kebanyakan orang dengan VSS memiliki komorbid migrain dengan aura. Kedua kondisi ini juga sering kali bercampur sehingga membingungkan diagnosis.

Kathleen B. Digre, profesor neurologi dan oftalmologi terkemuka asal Amerika Serikat (AS) menjelaskan bahwa VSS berbeda dengan migrain. Aura migrain biasanya memiliki awal, tengah, dan akhir, sedangkan pada VSS terjadi hampir terus-menerus.

Sementara HPPD juga dikaitkan dengan VSS karena keduanya memiliki gejala yang serupa, yaitu adanya gangguan visual dan penglihatan “salju” terus-menerus, akan tetapi kondisi HPPD berhubungan dengan konsumsi zat halusinogen yang bukan merupakan prasyarat untuk diagnosis sindrom salju visual.

5. Masih belum diketahui pengobatan yang efektif untuk sindrom salju visual

VSS merupakan kelainan yang diketahui dari laporan pasien tunggal atau laporan kasus, sehingga penentuan pengobatan yang efektif untuk sindrom ini masih belum diketahui.

Pada sebuah laporan kasus tahun 2015, diketahui bahwa obat lamictal (lamotrigin), yaitu obat antikejang, efektif mengatasi gejala. Sementara itu, pada laporan kasus tahun 2018 yang dialami oleh laki-laki usia 47 tahun setelah mengalami kecelakaan kendaraan bermotor, obat amitriptyline (antidepresan trisiklik dosis rendah) berhasil mengobatinya.

Namun, sekali lagi bahwa ini adalah penelitian dalam jumlah yang sangat kecil. Studi lebih lanjut dengan jumlah pasien lebih banyak dibutuhkan untuk mengetahui perawatan terbaik untuk gangguan ini.

Itulah sekilas informasi mengenai sindrom salju visual. Jika kamu mengalami gejala-gejala tersebut ada baiknya segera memeriksakan diri ke dokter untuk mendapatkan penanganan lebih dini.

sumber: idntimes.com